kisah ini terinspirasi dari perjuangan pejuang palestina melawan zionis israel
aku sudah tidak tau harus mengadu ke siapa lagi
beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba pak rt datang membawa tamu, pak isra
pak isra yang ga tau dari mana itu tiba2 ngaku rumah yg sudah kami diami sejak lama ini adalah rumahnya?
pas ditanyain kalo kami punya bukti kepemilikan yang sah, dia malah ngotot.
pak rt yang harusnya jadi pelindung warga malah membenarkan pernyataan pak isra
"bener kok, ini rumah keluarganya pak isra. dulu, duluuuu banget, kakek moyangnya pak isra pernah tinggal disini."
"lah, tapi buktinya apa?" saya ga habis pikir, seorang rt kok arogan, bukannya mengayomi warganya malah ikut-ikutan mengintimidasi
"pokoknya dulu moyang saya tinggal dirumah ini, ga usah bantah deh, mending kamu beres-beres dan segera pergi dari rumah ini!"
"tapi.."
"udah deh pak, ngalah aja. dari pada bapak repot sendiri." pak rt menengahi, tapi bagi kami ini adalah pengusiran
"tapi pak, ini rumah saya, saya beli dari keringat saya. bukti surat dan akte tanahnya saya lengkap kok."
"udah deh, teserah bapak mo bilang apa, setuju ga setuju pak rt juga dah ngakuin kalo ini rumah saya. jadi mulai sekarang saya akan tinggal dirumah ini. titik.!"
begitulah, sejak hari itu kami terpaksa berbagi rumah dengan pak isra dan keluarganya
awalnya pak isra membagi rumah menjadi dua bagian yang sama besar, pak isra bagian belakang, sedangkan kami ruang tamu dan halaman depan
tapi sedikit demi sedikit pak isra merampas rumah kami
kami diintimidasi, diboikot, bahkan sampai dipukuli.
kami pernah mengadu kepada kerabat dekat
tapi mereka hanya bilang,
"banyakin sabar ya pak listin. anggap ini bagian cobaan dari Alloh. bila bapak dan keluarga bisa lulus dari cobaan ini, inshaAlloh bapak akan mendapat derajat yang lebih tinggi."
nasihat mereka seakan memberi harapan, namun nampak semu dimata kami karena merekapun tidak pernah melakukan hal yang nyata.
ya kami bukannya tidak tau berterima kasih sih, kami juga sangat memberikan apresiasi terhadap beberapa keluarga yang telah mengulurkan tangan membantu pengobatan anak kami yang babak belur tiap dipukulin sama anaknya pak isra.
tetangga, ah apalagi tetangga
mereka hanya menjadi penonton yang baik, cuma bisa duduk manis, dan teriak mengecam.
huft, sebenarnya kami tidak tinggal diam berpangku tangan menerima nasip. kami berusaha membela apa yang menjadi hak kami. sesekali kami juga sering melakukan tindakan balasan.
namun hal yang kami lakukan malah dikecam tetangga sebagai tindakan anarkis, teror, dan sebagainya.
akhirnya apa lacur, kami di intimidasi makin hebat, dan kian membuat keadaan makin buruk.
hingga kini yang bisa kami lakukan hanya berusaha tetep tegar dengan sisa apa yang kami punya seraya tetap mengharapkan bantuan dari kerabat.
seandainya kalian tahu, yang kami butuhkan bukan sekedar pengobatan, tapi tindakan pembelaan dari kalian, duhai saudaraku!!
KAMI INI SAUDARA KALIAN,
APAKAH KALIAN TIDAK SAKIT HATI MELIHAT KAMI DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL BEGINI?
APAKAH KALIAN MERASA CUKUP DENGAN HANYA BERTERIAK DIPINGGIR LAPANGAN MELIHAT ANAK-ANAK KAMI DIPUKULIN?
APAKAH ITU CUKUP MENURUT KALIAN?
TIDAKKAH PERNAH KALIAN BERUSAHA LEBIH KERAS KETIMBANG HANYA MENGUTUK PERBUATAN PAK ISRA
APAKAH KALIAN MERASA SUDAH CUKUP MENOLONG DENGAN MENGIRIMKAN OBAT PENAHAN NYERI?
MAUKAH KALIAN MEMBANTU KAMI
YANG BAHKAN DENGAN KEADAAN LEMAH BEGINI MASIH MEMBERIKAN PUKULAN KEPADA PAK ISRA
BERIKAN TANGAN KALIAN, BANTU KAMI..!!
SEANDAINYA KALIAN TAHU, BETAPA PENGECUTNYA PAK ISRA. HANYA DENGAN TANGAN KALIAN LAH YANG BISA MEMUKUL MUNDUR MEREKA
BUKAN DENGAN SEKEDAR TERIAKAANN!!!!
sang anak ikan
berbagi pakan berbagi ceria
Senin, 19 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
